Halmahera Selatan Ketikone – Menghidupkan Kembali ‘Hapolas’: Antidot Individualisme dari Desa Paisumbaos
Di era di mana segala sesuatu diukur dengan konversi mata uang, menyaksikan sebuah komunitas bergerak serentak tanpa selembar kuitansi adalah sebuah kemewahan sosial. Di Desa Paisumbaos, Halmahera Selatan, kemewahan itu bernama Hapolas—sebuah tradisi gotong royong masyarakat Suku Makian yang biasanya memuncak saat mendirikan struktur hunian atau fasilitas publik. Tradisi ini bukan sekadar ritual warisan masa lalu; ia adalah kritik tajam sekaligus antidot bagi merayapnya sifat individualisme modern.
Dari kacamata sosial, Hapolas bertindak sebagai perekat struktural (social glue). Suku Makian dikenal memiliki ikatan kekerabatan yang sosiologisnya sangat resilien, sebagian dibentuk oleh sejarah migrasi dan adaptasi pasca-bencana geologis di masa lalu. Ketika seseorang hendak membangun rumah, ia tidak perlu memikirkan berapa biaya upah buruh bangunan yang mencekik. Cukup dengan mengabarkan kerabat dan tetangga, puluhan tangan akan datang membawa perkakas. Di sini, modal sosial (social capital) bekerja dalam bentuknya yang paling murni: kepercayaan (trust) dan resiprositas (timbal balik). Ada kontrak sosial tak tertulis bahwa “hari ini saya membantumu, esok atau lusa kamu dan yang lain akan membantuku.”
Namun, keliru jika kita menganggap Hapolas hanyalah aktivitas sentimental tanpa nilai ekonomi. Secara teoritis, Hapolas adalah instrumen efisiensi biaya transaksi (transaction cost efficiency) yang sangat efektif dalam ekonomi pembangunan perdesaan. Dengan meniadakan komponen upah tenaga kerja (labor cost) dalam struktur pembiayaan pembangunan fisik, sebuah keluarga di Desa Paisumbaos dapat menghemat pengeluaran antara 30% hingga 40% dari total estimasi biaya konstruksi.
Perspektif Ekonomi Makro Lokal:
Dana yang seharusnya habis untuk upah buruh tukang dapat dialokasikan kembali (reallocated) oleh rumah tangga untuk sektor produktif lainnya, seperti pemenuhan gizi anak, biaya pendidikan pendidikan tinggi, atau modal usaha perkebunan (seperti cengkih dan pala).
Tentu saja, tantangan Hapolas ke depan tidaklah mudah. Komersialisasi ruang hidup dan penetrasi ekonomi uang berisiko menggeser nilai resiprositas ini menjadi hubungan transaksional yang kaku. Jika masyarakat Paisumbaos mulai berpikir, “Berapa rupiah yang saya hasilkan jika saya membantu dia?” maka runtuhlah pondasi Hapolas.
Oleh karena itu, menjaga Hapolas tetap hidup di Paisumbaos bukan sekadar romantisasi budaya. Ini adalah strategi bertahan hidup (survival strategy) ekonomi dan sosial. Pemerintah daerah Halmahera Selatan sepatutnya melihat tradisi seperti Hapolas sebagai modal pembangunan daerah yang harus diintegrasikan, bukan dianggap sebagai masa lalu yang tertinggal oleh modernisasi.
2. Bentuk Berita
PAISUMBAOS, HALMAHERA SELATAN — Di tengah gempuran tren gaya hidup modern yang cenderung individualistis, masyarakat Suku Makian di Desa Paisumbaos, Kecamatan Botang Lomang, Kabupaten Halmahera Selatan, terus konsisten merawat tradisi leluhur bernama Hapolas. Tradisi gotong royong ini terbukti ampuh meringankan beban ekonomi warga, terutama dalam urusan pembangunan infrastruktur tempat tinggal.
Tradisi Hapolas kembali terlihat pekan ini saat salah satu warga desa mulai mendirikan kerangka rumah tinggalnya. Tanpa menggunakan jasa kontraktor ataupun buruh bangunan komersial, puluhan warga dari berbagai usia tampak bahu-bahu membahu mengecor fondasi dan mendirikan tiang-tiang kayu utama sejak pagi hari.
Kepala Desa Paisumbaos menjelaskan bahwa tradisi ini telah mengakar selama ratusan tahun sejak para leluhur Suku Makian mendiami wilayah tersebut.
Baca juga : Pemerintah Kabupaten Bandung Untuk Program Rutilahu Bantuan Tepat Sasaran
“Hapolas itu intinya adalah keringat yang dibagi rata. Kalau ada warga yang mau bikin rumah, potong sago, atau bersihkan lahan besar, mereka tinggal sampaikan ke tetangga dan kerabat. Semua datang sukarela, pemilik rumah hanya perlu menyiapkan makan dan minum sekadarnya,” ujarnya saat ditemui di lokasi kegiatan.
Efisiensi Biaya dan Penguatan Ikatan Komunal
Dari sisi ekonomi, tradisi Hapolas membawa dampak instan yang signifikan bagi ketahanan finansial rumah tangga di perdesaan Halmahera Selatan. Berdasarkan analisis biaya logistik wilayah kepulauan, upah tenaga kerja konstruksi seringkali menjadi komponen termahal kedua setelah harga bahan bangunan akibat aksesibilitas wilayah.
Melalui Hapolas, biaya upah tenaga kerja tersebut dapat ditekan hingga mencapai titik nol rupiah. Efisiensi finansial ini membuat warga yang berpenghasilan pas-pasan, seperti petani kelapa atau nelayan tradisional, tetap memiliki kesempatan untuk memiliki hunian yang layak dan sehat tanpa harus terjebak utang yang tinggi.
Sementara itu, dari dimensi sosial, sosiolog lokal menilai Hapolas berfungsi sebagai instrumen resolusi konflik alami dan penjaga stabilitas keamanan desa. Melalui interaksi intensif saat bekerja bersama dalam tradisi Hapolas, sekat-sekat ketegangan sosial atau perbedaan pandangan politik antar-warga yang biasa muncul dalam kehidupan sehari-hari cenderung melebur dan mencair dengan sendirinya.
Meski arus modernisasi dan digitalisasi mulai merambah kawasan perdesaan di Halmahera Selatan, masyarakat Desa Paisumbaos berkomitmen untuk tetap mempertahankan sistem nilai lokal ini sebagai identitas kultural sekaligus fondasi utama penggerak ekonomi berbasis komunitas.
Oleh : Nahriria Basir
Mahasiswa program studi ekonomi pembangunan universitas khairun
Reporter: Sinur




