Beranda Daerah Program Revitalisasi Sekolah, Murid SD di Tasikmalaya Masih Belajar di Rumah Panggung...

Program Revitalisasi Sekolah, Murid SD di Tasikmalaya Masih Belajar di Rumah Panggung Reyot

22
0

Tasikmalaya, Ketikone – Di tengah gencarnya program revitalisasi sekolah yang digulirkan pemerintah pusat untuk meningkatkan kualitas sarana pendidikan, kondisi memprihatinkan masih terjadi di pelosok Kabupaten Tasikmalaya.

Sebanyak 25 siswa Sekolah Dasar (SD) terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di sebuah rumah panggung reyot yang jauh dari kata layak.

Bangunan sederhana itu berada di balik perbukitan Kampung Manglid, Desa Kertaraharja, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya. Dari balik dinding bilik bambu yang mulai lapuk, suara anak-anak mengeja huruf masih terdengar setiap hari sebagai bukti semangat mereka menuntut ilmu di tengah keterbatasan.

Baca juga:Miris.! SDN Sukasari Terancam Ambruk, Proses Belajar Mengajar Terganggu

Sekolah tersebut merupakan kelas jauh dari SDN Kubangsari yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat bersama Pemerintah Desa sebagai solusi atas sulitnya akses pendidikan di wilayah tersebut.

Bangunan yang awalnya merupakan rumah panggung itu hanya berukuran sekitar 5 x 4 meter. Di dalam ruangan sempit tersebut, sebanyak 25 siswa harus belajar secara bersamaan, terdiri dari sembilan siswa kelas I dan 16 siswa kelas II.

Tidak ada sekat pemisah antarkelas. Proses belajar mengajar berlangsung saling berhimpitan. Kondisi semakin memprihatinkan ketika hujan turun karena atap bangunan yang telah lapuk kerap bocor hingga membasahi ruang belajar.

Baca juga:Diduga Libatkan Unsur Premanisme, Disdikbud Dapat Kecaman Keras

“Kondisinya memang sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak. Kalau hujan bocor, anak-anak belajar berdesakan tanpa sekat. Saya sangat berharap tempat ini bisa segera dibangunkan dua ruang kelas baru yang permanen,” ujar Epi, guru kelas jauh yang telah mengabdi selama tiga tahun, Selasa (21/7/2026).

Kegiatan belajar mengajar di kelas jauh tersebut hanya ditangani oleh dua tenaga pendidik, yakni Epi yang masih berstatus guru sukarelawan (Sukwan) dan seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI).
Sementara itu, setelah lulus dari kelas II, para siswa harus melanjutkan pendidikan ke sekolah induk di SDN Kubangsari dengan menempuh perjalanan sekitar dua kilometer.

Dibangun karena Krisis Pendidikan

Keberadaan kelas jauh ini berawal dari kondisi pendidikan di wilayah Kampung Manglid dan Kampung Sadot sekitar satu dekade lalu. Saat itu, banyak anak tidak bersekolah karena akses menuju sekolah sangat sulit.

Baca juga:Wabup Tasikmalaya Tinjau Jalan Rusak di Taraju, Tegaskan Komitmen Perjuangkan Perbaikan

Anak-anak harus berjalan kaki sekitar tiga kilometer melewati perbukitan, lembah, area persawahan, hingga menyeberangi sungai. Medan yang berat membuat banyak orang tua memilih tidak menyekolahkan anak-anak mereka.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah daerah bersama pemerintah desa akhirnya mendirikan kelas jauh pada tahun 2016 sebagai solusi agar anak-anak tetap memperoleh pendidikan dasar.

Kepala Desa Kertaraharja, Agus, mengatakan pembangunan sekolah dilakukan dengan keterbatasan anggaran melalui gotong royong masyarakat.”Dulu tempat ini dibangun sekitar tahun 2017 dengan segala keterbatasan.

Baca juga:Bupati Cecep Bertaruh pada Kualitas Birokrasi, Penunjukan Kurniawan Dinilai Langkah Strategis

Anggaran tanahnya dari kas desa dan rereongan (swadaya) warga. Karena dana terbatas, kami membeli rumah panggung bekas milik warga yang sudah tidak ditempati, kemudian materialnya dirakit kembali menjadi ruang kelas ini,” katanya.

Janji Pembangunan Belum Terwujud

Setelah hampir satu dekade digunakan, kondisi bangunan kini semakin memprihatinkan dan dinilai membahayakan keselamatan para siswa.
Pemerintah desa bersama masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya segera membangun ruang kelas permanen agar anak-anak dapat belajar dengan aman dan nyaman.

Agus mengungkapkan, harapan masyarakat sempat muncul ketika Bupati Tasikmalaya saat itu, Uu Ruzhanul Ulum, berjanji akan membangun gedung kelas jauh secara permanen apabila desa menyediakan lahan.

Baca juga:Bupati Tinjau Lokasi Fasilitas Pembangunan Listrik Tenaga Sampah

Namun hingga kini, meski lahan telah disiapkan secara swadaya, pembangunan tersebut belum juga terealisasi.

“Lahan sudah kami sediakan secara swadaya, tetapi sampai kepemimpinan berganti hingga tiga bupati, janji tersebut belum juga terealisasi. Pemerintah desa juga tidak bisa menggunakan Dana Desa untuk membangun gedung sekolah karena terbentur regulasi,” pungkas Agus.

Kondisi ini menjadi ironi di tengah komitmen pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui program revitalisasi sekolah. Warga berharap pemerintah segera memberikan perhatian agar puluhan siswa di pelosok Tasikmalaya dapat belajar di ruang kelas yang aman, layak, dan nyaman. (masdar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini