Kab.Ciamis Ketikone – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. H. Wihaji, S.Ag., menyoroti risiko stunting pada keluarga Endang Kuswara/Nia Kurnia di Dusun Cilemor RT 01 RW 13, Desa Kertaharja, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Keluarga tersebut memiliki sembilan anak, tetapi hanya dua kelahiran yang direncanakan.
“Dari sembilan, yang direncanakan dua. Artinya, yang tujuh kebobolan. Ini menjadi catatan bagi kita dan teman-teman pendamping keluarga,” ujar Wihaji kepada awak media saat mengunjungi kediaman keluarga tersebut, Selasa (29/9/2026).
Menurut Wihaji, kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam upaya menekan risiko stunting. Pemerintah tidak hanya mendorong pemenuhan gizi, tetapi juga memperkuat edukasi keluarga dan akses terhadap kontrasepsi.
Baca juga:Diky Chandra Bicara “Napas Kebaikan” di Maulid Nabi, Minta Doa dari NU
Ia menegaskan, program keluarga berencana bukan semata-mata urusan perempuan. Laki-laki juga memiliki pilihan kontrasepsi.
“Urusan kontrasepsi atau KB tidak hanya urusan perempuan. Kita juga memberikan pilihan bagi laki-laki. Selain kondom, ada vasektomi,” katanya.
Selain perencanaan keluarga, kondisi tempat tinggal juga menjadi perhatian. Rumah, MCK, sanitasi dan ketersediaan air dinilai perlu diperbaiki karena berkaitan dengan lingkungan tumbuh keluarga.
Pemerintah akan melakukan penanganan melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting). Wihaji menargetkan proses perbaikan dapat dilakukan dalam waktu sekitar tiga bulan dan meminta pemerintah desa serta masyarakat ikut mengawal pelaksanaannya.
Melalui program tersebut, keluarga mendapat dukungan dari BRI sebagai orang tua asuh. Bantuan senilai sekitar Rp50 juta tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, melainkan diwujudkan dalam bentuk perbaikan fisik rumah, pembangunan MCK, penyediaan air dan pembenahan kamar.
“Uangnya Rp50 juta, tapi tidak dalam bentuk uang. Nanti langsung bangunan yang dibangun oleh BRI. Kita pastikan MCK dibangun, rumah diperbaiki dan airnya juga baik,” jelas Wihaji.
Baca juga:SMSI Aceh Barat Raih Penghargaan sebagai Organisasi Media Pegiat Literasi 2026
Wihaji mengatakan, kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah melihat langsung persoalan keluarga berisiko stunting di lapangan.
Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya membahas persoalan stunting melalui seminar dan diskusi, tetapi harus turun langsung melihat kondisi keluarga dan mencari solusi bersama.
“Pak Presiden memerintahkan, jangan hanya seminar dan diskusi. Turun ke lapangan, selesaikan masalah,” tegasnya.
Ia pun mengapresiasi para pendamping keluarga dan penyuluh yang berada langsung di tengah masyarakat. Mereka dinilai memiliki peran penting dalam menemukan dan mendampingi keluarga yang membutuhkan perhatian.
“Kita tidak semuanya bisa menyelesaikan sekaligus. Tapi step by step, yang bisa kita kerjakan, kita kerjakan,” pungkasnya.
Reporter:(Abraham)




