Beranda Birokrasi Nyangku 2026 Tak Sekadar Tradisi, Panjalu Didorong Jadi Kekuatan Budaya dan Ekonomi

Nyangku 2026 Tak Sekadar Tradisi, Panjalu Didorong Jadi Kekuatan Budaya dan Ekonomi

24
0

Kab.Ciamis Ketikone – Upacara Adat Nyangku 2026 di Panjalu tidak semestinya berhenti sebagai ritual budaya tahunan. Momentum tersebut dinilai dapat menjadi titik tolak untuk menjadikan warisan leluhur sebagai kekuatan baru bagi pariwisata, pendidikan, ekonomi kreatif dan pemberdayaan masyarakat menuju Panjalu Emas 2030.

Pandangan itu disampaikan Dr. Rd. Heri Solehudin Atmawidjaja, MM., Teureuh Prabu Sanghyang Borosngora ke-17. Menurutnya, kekayaan sejarah dan budaya Panjalu memiliki modal kuat untuk dikembangkan tanpa kehilangan nilai dan jati dirinya.

“Nyangku adalah ruang perjumpaan antara sejarah, budaya, keislaman, pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, kewirausahaan dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Nyangku 2026 mengusung tema “Melalui Nyangku dan Festival Budaya Panjalu, Kita Tingkatkan Pendalaman Nilai-nilai Budaya dan Keislaman dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.”
Sementara motonya, “Nyukcruk Galurna Karuhun, Ngudag Lacak Laratan anu Baheula, Kiwari Ngancik Bihari, Ayeuna Sampeureun Jaga,” dinilai memiliki pesan penting bagi arah pembangunan Panjalu.

Baca juga:Catatan Akhir Tahun, SMSI Jawa Barat Rampungkan Sejumlah Program Kerja

Heri menilai menelusuri jejak leluhur bukan berarti masyarakat harus terjebak dalam romantisme masa lalu. Sebaliknya, sejarah dan tradisi harus mampu diterjemahkan menjadi nilai yang relevan untuk menjawab tantangan masa kini sekaligus menyiapkan masa depan.

Bukan Sekadar Mencuci Pusaka
Dalam tradisi masyarakat Panjalu, Nyangku memiliki keterkaitan erat dengan sejarah dan benda-benda pusaka yang disimpan di Bumi Alit, termasuk Pedang Cis dan Genta yang dikaitkan dengan Prabu Sanghyang Borosngora.

Namun, menurut Heri, makna Nyangku jauh lebih besar daripada sekadar prosesi pencucian pusaka.
Nilai yang terkandung di dalamnya harus tercermin dalam kehidupan masyarakat. Salah satunya melalui falsafah “Mangan Karana Halal, Pake Karana Suci, Ucap Lampah Sabenere.”

Filosofi tersebut mengajarkan pentingnya mencari rezeki secara halal, menjaga kebersihan serta kesucian, dan menjadikan ucapan maupun perbuatan berada di jalan yang benar.
“Tradisi menjadi bermakna ketika mampu melahirkan perilaku sosial yang lebih baik, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian dan kehidupan yang berlandaskan nilai agama,” katanya.

Baca juga:Apresiasi Pelestarian Budaya,Diky Candra Terima Penghargaan dari Yayasan Sanca Wulung Galunggung

Panjalu Punya Modal Wisata
Selain sebagai pusat tradisi dan sejarah, Panjalu dinilai memiliki modal besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata ziarah Islami yang terintegrasi dengan wisata alam dan budaya.

Bumi Alit, Nusa Gede, Situ Lengkong dan kawasan Taman Borosngora, menurut Heri, dapat dikembangkan dalam satu ekosistem destinasi.
Konsep tersebut tidak semata-mata mengejar jumlah wisatawan. Pengunjung justru diharapkan memperoleh pengalaman spiritual, edukatif, historis dan kultural.

Wisatawan dapat mengenal sejarah Panjalu, memahami nilai keislaman yang berkembang dalam masyarakat, menikmati keindahan Situ Lengkong, sekaligus berinteraksi dengan pelaku ekonomi lokal.

Dengan konsep tersebut, Panjalu berpeluang membangun karakter destinasi cultural and Islamic pilgrimage tourism yang memiliki kekhasan tersendiri.

Baca juga:Wawali Diky Candra Negara Hadiri HUT ke-57 SDN Sukamenak 5, Apresiasi Semangat Kebersamaan

Festival Harus Berdampak ke Masyarakat
Festival Budaya Panjalu juga didorong menjadi living heritage, yakni warisan budaya yang tidak hanya dipertontonkan, tetapi terus hidup, dipraktikkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Rangkaian Nyangku 2026 seperti Mapag Cai atau Tirta Kahuripan, Samida, khotaman Al-Qur’an, Maulid Nabi, pagelaran seni, gembyung, helaran budaya, kirab pusaka hingga pencucian pusaka menjadi bagian dari kekayaan tersebut.
Namun, festival tidak boleh hanya menghasilkan keramaian sesaat.

“Nyangku harus menjadi tontonan, tuntunan sekaligus tuntutan untuk melestarikan kebudayaan,” tegas Heri.
Menurutnya, kegiatan budaya juga harus mampu menciptakan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.

Setiap kegiatan budaya dapat menggerakkan rantai ekonomi mulai dari kuliner, transportasi, penginapan, perdagangan, kerajinan, fesyen, suvenir, fotografi, seni pertunjukan hingga jasa pemandu wisata.

Baca juga:Bupati Cecep Serahkan Hibah Strategis, Perkuat Layanan Publik dan Infrastruktur Kesehatan di Tasikmalaya

Karena itu, UMKM Panjalu perlu didorong naik kelas. Produk lokal tidak cukup hanya dijual ketika festival berlangsung, tetapi harus dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Pemanfaatan platform digital, desain kemasan yang lebih modern dan penguatan identitas produk dinilai penting. Bahkan, sejarah dan filosofi Panjalu dapat dijadikan bagian dari storytelling produk.
“Dengan demikian, pengunjung tidak sekadar membeli produk, tetapi membawa pulang cerita Panjalu,” ujarnya.

Lima Fondasi Panjalu Emas 2030
Dari seluruh potensi tersebut, Heri melihat gagasan Panjalu Emas 2030 dapat dibangun di atas lima fondasi.

Pertama, budaya yang lestari. Kedua, nilai keislaman yang kuat. Ketiga, pariwisata yang berkelanjutan. Keempat, ekonomi kreatif yang produktif. Kelima, masyarakat yang berdaya secara ekonomi.

Baca juga:Hadirkan Rasa Aman, Bupati Bandung Lindungi Pengurus OKP dan KNPI dengan BPJS Ketenagakerjaan  

Puncak Nyangku 2026 pada Senin, 7 September 2026, diharapkan menjadi momentum untuk mulai memperkuat kelima fondasi tersebut.
Bagi Heri, kesinambungan sejarah dan genealogis Panjalu juga menjadi bagian penting dalam menjaga identitas daerah.

Sebagai bagian dari garis keturunan Prabu Sanghyang Borosngora dan keluarga besar Yayasan Borosngora, ia memandang warisan leluhur bukan sekadar kebanggaan sejarah.
“Warisan karuhun merupakan amanah untuk dijaga dan diterjemahkan menjadi kemaslahatan masyarakat,” katanya.

Karena itu, arah pembangunan Panjalu ke depan membutuhkan hilirisasi budaya. Sejarah dikembangkan menjadi pendidikan, tradisi menjadi destinasi wisata, festival menjadi ruang ekonomi kreatif, UMKM menjadi kewirausahaan berdaya saing, dan nilai keislaman menjadi fondasi etika kehidupan masyarakat.

Semangat tersebut terangkum dalam filosofi “Nyukcruk galurna karuhun, ngudag lacak laratan anu baheula, kiwari ngancik bihari, ayeuna sampeureun jaga.”

Menelusuri jejak leluhur, menggali warisan masa lalu, menghayati nilainya pada masa kini, lalu menjadikannya bekal untuk menjaga masa depan.
Dari Nyangku menuju Panjalu Emas 2030, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana menjaga tradisi tetap hidup, tetapi bagaimana menjadikan tradisi tersebut memberi kehidupan dan kemaslahatan bagi masyarakat.

Reporter:Abraham

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini