Wamena Ketikone — Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Papua Pegunungan menggelar Rapat Kerja (Raker) Provinsi I Tahun 2026, Kamis (27/8/2026). Raker perdana sejak terbentuknya Provinsi Papua Pegunungan itu menjadi momentum penting untuk memperkuat organisasi sekaligus menyusun arah pembinaan olahraga yang terencana, berjenjang, terukur, dan berkelanjutan.
Raker dihadiri jajaran pengurus KONI Provinsi Papua Pegunungan, para ketua KONI kabupaten, pengurus cabang olahraga, serta unsur terkait lainnya. Forum tersebut menjadi ruang strategis untuk mengevaluasi program kerja sekaligus menyusun langkah pembinaan olahraga di delapan kabupaten di Papua Pegunungan.
Ketua KONI Provinsi Papua Pegunungan, Dr. (H.C.) John Tabo, S.E., MBA, menegaskan bahwa pembinaan atlet tidak boleh hanya dilakukan menjelang kejuaraan. Menurutnya, proses pencarian dan pembinaan atlet harus dimulai dari tingkat kabupaten, distrik hingga kampung agar potensi generasi muda dapat ditemukan dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Baca juga:KONI Kota Tasikmalaya Raih Juara 2 Turnamen Padel KONI Jawa Barat 2026
“Ini Raker Provinsi yang pertama dalam sejarah terbentuknya Provinsi Papua Pegunungan. Karena itu, kita harus duduk bersama, berdiskusi dan menetapkan dasar-dasar pembinaan generasi muda melalui olahraga,” ujar John Tabo.
Ia mengatakan, KONI kabupaten memiliki peran penting sebagai ujung tombak dalam melakukan penjaringan bibit atlet di daerah. Atlet yang ditemukan dari berbagai wilayah selanjutnya harus dibina secara berjenjang hingga mampu memperkuat kontingen Papua Pegunungan pada berbagai kejuaraan, baik tingkat provinsi, nasional maupun internasional.
“Pembinaan harus dimulai dari bawah. Kabupaten melakukan penjaringan dari distrik, kemudian kita siapkan pekan olahraga daerah tingkat provinsi. Dari sana kita mendapatkan atlet-atlet terbaik yang akan kita persiapkan untuk event nasional maupun internasional,” kata John Tabo
John Tabo meminta seluruh pengurus KONI dan cabang olahraga tidak menjadikan pembinaan sebagai kegiatan yang hanya dilakukan ketika menghadapi pertandingan atau kejuaraan.
Baca juga:Hasyim Djojohadikusumo: Saya Datang karena Percaya SMSI
Menurutnya, setiap cabang olahraga harus memiliki program pembinaan rutin sepanjang tahun dengan target yang jelas, terukur, dan disesuaikan dengan kemampuan daerah.
Ia menilai olahraga mempunyai peran yang jauh lebih luas daripada sekadar mengejar medali. Olahraga, kata dia, menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia Papua Pegunungan, terutama generasi muda.
“Olahraga bukan hanya soal prestasi, tetapi juga bagian dari pembentukan sumber daya manusia. Karena itu, generasi muda harus diberikan ruang seluas-luasnya untuk terlibat dalam kegiatan olahraga,” tuturnya.
John Tabo juga memberikan apresiasi kepada atlet Papua Pegunungan yang telah mengambil bagian dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI di Aceh dan Sumatera Utara.
Baca juga:Wakil Wali Kota Diky Candra Apresiasi Solidaritas Driver Maxim Tasikmalaya
Menurutnya, keikutsertaan tersebut merupakan bagian penting dari sejarah olahraga Papua Pegunungan sebagai provinsi baru. Para atlet yang telah menunjukkan prestasi pada ajang nasional tersebut diharapkan tidak berhenti setelah kompetisi berakhir, tetapi mendapatkan pembinaan lanjutan.
“Ini menjadi catatan dan sejarah pertama bagi Provinsi Papua Pegunungan dalam mengambil bagian pada PON. Karena itu, atlet-atlet yang sudah berprestasi harus menjadi prioritas dalam pembinaan,” ujarnya.
Dalam Raker tersebut, John Tabo juga mengungkapkan bahwa dari sekitar 41 cabang olahraga yang berada dalam organisasi KONI Papua Pegunungan, sebanyak 25 cabang olahraga telah terverifikasi.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi bahan evaluasi untuk menentukan arah dan prioritas pembinaan olahraga di Papua Pegunungan. Penentuan prioritas juga harus mempertimbangkan potensi prestasi setiap cabang olahraga serta kemampuan fiskal daerah.
John Tabo meminta jajaran pengurus KONI menyusun program kerja secara realistis dan tidak memaksakan program yang berada di luar kemampuan anggaran. “Kita harus menyusun program secara sederhana dan realistis. Jangan sampai kita membuat program yang terlalu besar, sementara kemampuan kita belum mencukupi. Kita mulai dari kekurangan yang kita miliki dan secara bertahap menuju kelebihan,” jelasnya.
Dalam kondisi fiskal yang terbatas, KONI diminta memilih cabang olahraga yang mempunyai peluang prestasi tinggi dengan kebutuhan pembiayaan yang relatif dapat dijangkau. Cabang olahraga perorangan seperti tinju, pencak silat, dan taekwondo dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan secara lebih terukur.
“Kalau kondisi fiskal kita terbatas, kita harus melihat cabang olahraga yang biaya pembinaannya lebih efisien tetapi memiliki peluang menghasilkan medali. Ini yang harus kita diskusikan bersama,” katanya.
Baca juga:Sukses Digelar, Downhill Galunggung 2026 Dongkrak Sport Tourism Tasikmalaya
KONI Kabupaten Diminta Segera Perkuat Organisasi. Selain pembinaan atlet, John Tabo menekankan pentingnya memperkuat struktur organisasi KONI di tingkat kabupaten.
Kabupaten yang kepengurusannya belum dikukuhkan diminta segera mempersiapkan kepengurusan sehingga dapat menjalankan fungsi organisasi sekaligus pembinaan olahraga secara optimal.
Menurutnya, penguatan KONI kabupaten sangat penting karena proses pencarian dan pembinaan bibit atlet sebagian besar berlangsung di daerah. Karena itu, pembinaan olahraga tidak boleh hanya terpusat di tingkat provinsi, tetapi harus berkembang hingga ke distrik dan kampung.
Dengan struktur organisasi yang kuat, proses penjaringan atlet di tingkat bawah diharapkan berjalan lebih sistematis dan mampu menghasilkan atlet potensial dari seluruh wilayah Papua Pegunungan.
Baca juga:Sekjen PP ICF Hadiri BMX Supercross Banyuwangi 2026, Tegaskan Komitmen Pembinaan Atlet Berprestasi
Di tengah upaya membangun organisasi olahraga yang kuat, John Tabo juga mengingatkan seluruh pengurus KONI agar menjaga persatuan dan tidak membawa dinamika politik ke dalam organisasi olahraga. Ia menegaskan bahwa perbedaan pilihan politik merupakan bagian dari proses demokrasi yang harus dihormati. Namun, setelah proses politik selesai, seluruh pihak harus kembali bersatu untuk bekerja dan membangun daerah.
“Pertandingan politik sudah selesai. Jangan membawa perbedaan politik ke dalam pekerjaan dan pembinaan olahraga. Kita harus bersatu untuk membangun olahraga Papua Pegunungan,” tegasnya.
Menurut John Tabo, KONI harus menjadi rumah bersama bagi seluruh atlet, pengurus, pelatih, dan insan olahraga tanpa membedakan latar belakang maupun pilihan politik.
Sementara itu, Ketua Panitia Raker KONI Provinsi Papua Pegunungan, Semi Hisage, dalam laporannya menyampaikan bahwa Raker Provinsi I Tahun 2026 memiliki tiga tujuan utama.
Baca juga: SMSI Berkomitmen Gelorakan Desa Jadi Ujung Tombak Indonesia
Pertama, menyusun visi dan arah pembinaan olahraga pada delapan kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan.
Kedua, menyusun program kerja dan kalender kegiatan KONI Provinsi Papua Pegunungan Tahun 2026.
Ketiga, mempersiapkan atlet-atlet terbaik Papua Pegunungan untuk menghadapi berbagai agenda olahraga di tingkat daerah maupun nasional.
Menurut Semi, Raker juga menjadi forum strategis untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja sekaligus memperkuat koordinasi antara KONI provinsi, KONI kabupaten, dan seluruh cabang olahraga yang berada di bawah naungan KONI Papua Pegunungan.
“Raker ini menjadi forum strategis untuk mengevaluasi program kerja dan menyusun langkah-langkah pembinaan olahraga, sekaligus memperkuat koordinasi antara KONI Provinsi, KONI Kabupaten dan seluruh cabang olahraga di Papua Pegunungan,” jelasnya.
Ia berharap hasil Raker dapat menjadi dasar pelaksanaan program pembinaan olahraga yang lebih terarah serta mendorong lahirnya atlet-atlet berprestasi dari seluruh wilayah Papua Pegunungan. Pada bagian akhir sambutannya, John Tabo mengajak seluruh pengurus KONI membangun budaya organisasi yang mengedepankan disiplin, baik disiplin diri, waktu maupun tanggung jawab organisasi.
Baca juga:Diky Candra Raih Galunggung Awards, Dedikasi Pelestarian Budaya Sunda Mendapat Apresiasi
Ia berharap Raker Provinsi I KONI Papua Pegunungan tidak berhenti sebagai forum administratif, tetapi menghasilkan program kerja konkret, terukur, realistis, dan berkelanjutan.
Menurutnya, keberhasilan pembinaan olahraga Papua Pegunungan membutuhkan kerja bersama antara KONI provinsi, KONI kabupaten, cabang olahraga, pemerintah daerah, pelatih, atlet, serta masyarakat.
“Ini adalah awal dari perjalanan olahraga Papua Pegunungan. Mari kita belajar bersama, saling membina, memperkuat persaudaraan dan mempersiapkan generasi muda agar mampu membawa nama baik Papua Pegunungan di tingkat nasional bahkan internasional,” pungkasnya.
Raker Provinsi I KONI Papua Pegunungan Tahun 2026 pun menjadi pijakan awal untuk membangun sistem pembinaan olahraga yang dimulai dari akar rumput. Dengan penguatan KONI kabupaten, penjaringan atlet hingga tingkat distrik dan kampung, serta program pembinaan yang realistis sesuai kemampuan fiskal, Papua Pegunungan diharapkan mampu melahirkan generasi atlet yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki disiplin, karakter dan semangat persatuan.(Ek)




