Beranda Ragam Berita Camat Margaasih Joko Mardianto Tekankan Pengelolaan Sampah Terpadu, Pemilahan Harus Dimulai dari...

Camat Margaasih Joko Mardianto Tekankan Pengelolaan Sampah Terpadu, Pemilahan Harus Dimulai dari Rumah Tangga

44
0

Kab.Bandung Ketikone – Camat Margaasih, Djoko Mardianto, menekankan pentingnya penanganan dan pengelolaan sampah secara komprehensif, mulai dari tingkat rumah tangga hingga proses pengangkutan.

Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kesadaran masyarakat untuk memilah sampah, tetapi juga harus didukung sistem pengangkutan yang teratur agar sampah yang telah dipilah tidak kembali tercampur.

Hal tersebut disampaikan Djoko Mardianto saat membahas persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah di wilayah Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung.

Ia menjelaskan, pengelolaan sampah memang bukan perkara mudah karena berkaitan erat dengan kebiasaan masyarakat sehari-hari. Selama ini, sampah rumah tangga umumnya masih dikumpulkan dalam satu wadah tanpa pemisahan antara sampah kering dan sampah basah.

“Pengelolaan sampah ini sebenarnya gampang-gampang susah, karena semuanya kembali kepada individu dan bagaimana kita mengubah kebiasaan. Masyarakat perlu mulai membiasakan diri memilah sampah kering dan sampah basah, dimulai dari rumah tangga masing-masing,” ujarnya.

Namun demikian, Djoko menegaskan, edukasi kepada masyarakat harus dibarengi dengan sistem pengangkutan yang sejalan. Apabila masyarakat sudah berupaya memilah sampah, tetapi petugas pengangkut kembali mencampurkannya, maka upaya tersebut berpotensi mengurangi semangat warga untuk terus melakukan pemilahan.

Ia mencontohkan, sejumlah warga, khususnya ibu-ibu rumah tangga, sebenarnya sudah memiliki kesadaran untuk memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. Akan tetapi, ketika sampah diangkut menggunakan gerobak atau kendaraan pengangkut lainnya, sampah yang sebelumnya telah dipisahkan justru kembali disatukan.

“Kalau ibu-ibu sudah memilah sampah kering dan basah, tetapi ketika diangkut semuanya disatukan kembali, tentu mereka merasa usahanya tidak dihargai. Akhirnya muncul anggapan, kalau begitu lebih baik disatukan saja dari rumah. Ini yang harus kita hindari,” jelasnya.

Karena itu, ia menilai pengelolaan sampah harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemilahan di rumah, pengumpulan oleh RT dan RW, hingga pengangkutan oleh petugas maupun Dinas Lingkungan Hidup. Seluruh tahapan tersebut perlu memiliki mekanisme dan jadwal yang jelas agar sampah yang sudah dipilah dapat tetap terpisah sampai ke proses pengolahan berikutnya.

Menurutnya, sistem pengangkutan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan wilayah, misalnya dengan menerapkan jadwal berbeda untuk sampah kering dan sampah basah. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya diberikan imbauan untuk memilah sampah, tetapi juga memperoleh kepastian bahwa pemilahan yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat.

Bank Sampah dan Peran Aktif Ibu-Ibu

Di sisi lain, Djoko mengapresiasi sejumlah wilayah di Kecamatan Margaasih yang mulai menunjukkan perkembangan positif dalam pengelolaan sampah. Beberapa RW bahkan telah menjalankan pemilahan sampah, membentuk bank sampah, hingga mengembangkan pengolahan sampah organik.

Salah satu upaya yang mulai dilakukan masyarakat adalah mengumpulkan sampah kering yang masih memiliki nilai ekonomis, seperti botol plastik bekas minuman dan gelas plastik bekas air mineral, untuk kemudian disetorkan ketika bank sampah membuka layanan.

Menurut Djoko, meskipun bank sampah di suatu wilayah hanya beroperasi satu hari dalam sepekan, antusiasme masyarakat tetap terlihat. Warga secara mandiri mengumpulkan sampah yang dapat dijual agar tidak seluruhnya berakhir sebagai sampah yang harus dibuang.

“Yang menarik, bank sampah ini banyak digerakkan oleh ibu-ibu. Walaupun dalam satu minggu hanya ada satu hari pelayanan, warga tetap antusias mengumpulkan sampah kering yang memiliki nilai jual. Ini menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya sudah memiliki kemauan untuk ikut mengurangi persoalan sampah,” ungkapnya.

Selain bank sampah, terdapat pula masyarakat yang mulai mengembangkan pengolahan sampah organik, termasuk melalui budidaya maggot. Langkah tersebut dinilai menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi sampah organik yang selama ini mendominasi sampah rumah tangga.

Djoko menyebut Desa Lagadar dan Desa Margaasih sebagai wilayah yang telah mendapat perhatian karena kegiatan pengelolaan sampahnya sudah berjalan. Informasi mengenai kegiatan tersebut diperoleh dari hasil pemantauan di lapangan serta laporan para pengurus RW.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan kader PKK dan masyarakat di Desa Mekarrahayu yang turut mendorong kegiatan pengelolaan sampah di lingkungannya.

Salah satu yang mendapat perhatian adalah Seri Asih, yang aktif menyampaikan perkembangan kegiatan melalui media sosial. Menurut Joko, publikasi tersebut penting untuk menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya kaum perempuan, turut mengambil peran nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Saya sering menjadikan kegiatan ibu-ibu sebagai contoh bagi wilayah lain. Ibu Seri Asih, misalnya, aktif menyampaikan perkembangan kegiatan melalui media sosial. Ini menunjukkan bahwa ibu-ibu tidak tinggal diam, tetapi ikut berjuang mengelola dan mengurangi sampah,” tuturnya.

Mekarrahayu dan Cigondewah Hilir Jadi Percontohan Kabupaten

Terkait Desa Mekarrahayu dan Desa Cigondewah Hilir yang saat ini menjadi bagian dari program percontohan pengelolaan sampah tingkat Kabupaten Bandung, Joko menyampaikan bahwa pihak kecamatan masih melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap perkembangan kedua wilayah tersebut.

Menurutnya, perlu dilihat lebih jauh apakah program percontohan tersebut bertumpu pada kegiatan pengelolaan sampah yang sebelumnya sudah berjalan atau menjadi upaya pembinaan dari awal dengan pendampingan pemerintah kabupaten.

Evaluasi tersebut dinilai penting untuk mengetahui sejauh mana pendampingan yang diberikan mampu mendorong masyarakat membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Baca juga :

“Kami sedang memantau dan melihat perkembangannya. Karena Mekarrahayu dan Cigondewah Hilir menjadi percontohan tingkat kabupaten, kami ingin mengetahui bagaimana prosesnya, apakah pengelolaan sampahnya sudah berjalan sebelumnya atau dibangun melalui pembinaan dari tingkat kabupaten,” katanya.

Ia berharap program percontohan tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menghasilkan pola pengelolaan sampah yang dapat diterapkan secara berkelanjutan dan menjadi contoh bagi desa-desa lainnya.

Joko menegaskan, edukasi kepada masyarakat akan terus dilakukan agar kesadaran memilah sampah semakin meningkat. Pada saat yang sama, koordinasi dengan pemerintah desa, pengurus RT/RW, kader PKK, serta pihak terkait perlu diperkuat agar seluruh proses pengelolaan sampah berjalan secara terpadu.

Dengan keterlibatan semua pihak, ia berharap pengelolaan sampah di Kecamatan Margaasih semakin baik, volume sampah yang dibuang dapat dikurangi, dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan terus tumbuh.

“Intinya, pengelolaan sampah harus dilakukan bersama-sama. Masyarakat memilah dari rumah, kemudian pengangkutannya juga harus mendukung. Kalau semua berjalan selaras, upaya mengurangi sampah akan lebih efektif,” pungkasnya.

 

Reporter : Den

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini