Kab.Bandung Ketikone — Memasuki periode kemarau yang cukup panjang, debit sumber air di sejumlah titik mengalami penurunan. Kondisi tersebut turut menjadi tantangan bagi pengelola pelayanan air bersih masyarakat, termasuk BUMDes Marga Bakti Persada, Desa Margahayu Tengah, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung.
Meski terjadi penurunan debit air dan sejumlah mesin pompa harus mendapatkan perawatan maupun penggantian, pelayanan kepada masyarakat hingga saat ini tetap berjalan. Hal tersebut disampaikan Ketua BUMDes Marga Bakti Persada, Haji Aep Saepuloh (11/9/2026).
Menurutnya, penurunan debit air merupakan kondisi yang tidak dapat dihindari ketika musim kemarau berlangsung cukup panjang. Namun, pihaknya terus melakukan berbagai langkah agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi.
“Perubahan pasti ada, apalagi sekarang periode kemarau panjang. Debit air memang mengurang. Tapi alhamdulillah sampai saat ini warga tidak mengalami kekurangan air. Pelayanan masih full,” ujar Haji Aep.
Ia menjelaskan, pada beberapa titik tertentu pihak pengelola terpaksa menerapkan sistem pengaturan waktu atau timer untuk menjaga distribusi air tetap berjalan secara merata. Namun, sistem tersebut tidak diberlakukan di seluruh wilayah.
“Kadang-kadang kita menggunakan timer, misalnya di satu titik dua jam, kemudian di titik lainnya dua jam. Tapi tidak setiap titik seperti itu. Hanya beberapa titik yang memang perlu diatur,” jelasnya.
Baca juga : Bupati Cecep Apresiasi Pengabdian ASN, 63 ASN Kabupaten Tasikmalaya Memasuki Purna Tugas
Selain persoalan debit air, pihaknya juga menghadapi kendala pada mesin pompa di sejumlah titik. Penurunan debit membuat mesin harus bekerja lebih berat sehingga temperatur mesin meningkat dan berpotensi mengalami gangguan.
“Kalau misalnya amperenya biasanya delapan, kemudian bisa naik menjadi dua belas. Jadi bukan debit airnya saja yang berkurang, tetapi mesin juga bekerja lebih berat, panas, dan akhirnya perlu kita tangani,” katanya.
Haji Aep menyebut sejumlah titik yang sempat mengalami persoalan, di antaranya titik Greenville, B2, C8-2, titik 4, titik 9, titik 6, titik 4-2 dan titik 8.
Untuk mengantisipasi gangguan pelayanan, BUMDes Marga Bakti Persada telah melakukan penggantian sejumlah mesin pompa serta menyiapkan mesin cadangan yang dapat digunakan sewaktu-waktu.
“Seperti yang terjadi di titik Greenville, alhamdulillah sudah kita suplai sumur baru dan mesin baru. Karena masalah-masalah seperti ini cukup banyak, kita harus siap mengatasinya,” ungkapnya.
Menurutnya, kesiapan teknis menjadi hal penting dalam menjaga keberlangsungan pelayanan air bersih. Bahkan, ketika terjadi kerusakan mesin, petugas harus bekerja hingga larut malam agar gangguan tidak berlangsung lama.
“Anak-anak yang bekerja kadang mengganti mesin sampai jam empat subuh. Kemarin di titik 4-2 sampai jam empat subuh, titik 8 juga sampai jam empat subuh. Jam 12 malam itu sudah tidak aneh lagi bagi kami,” tuturnya.
Saat ini, BUMDes Marga Bakti Persada mengelola sekitar 32 titik sumur yang tersebar di seluruh wilayah Desa Margahayu Tengah. Pelayanan tersebut mencakup 16 RW yang ada di desa tersebut.
“Sekarang kita ada 32 titik. Semua tersebar di 16 RW. Jadi seluruh RW ada pelayanan airnya. Karena itu, ketika ada mesin yang harus diganti, kita langsung lakukan penggantian,” jelas Haji Aep.
Ia menambahkan, langkah berikutnya yang dilakukan pengelola adalah meningkatkan pengawasan terhadap setiap titik pelayanan. Pengukuran debit air dilakukan untuk mengetahui seberapa besar penurunan yang terjadi serta mencari penyebab apabila terdapat gangguan.
“Kita mengawasi setiap titik, diukur debitnya berapa, berkurangnya berapa liter per detik. Kalau ada kelemahan, kita lihat penyebabnya apakah dari mesin, impeller, atau alat-alat elektro lainnya. Itu harus dipantau setiap saat,” katanya.
Untuk itu, tim teknis secara berkala diturunkan untuk memantau kondisi dari satu titik ke titik lainnya. Termasuk ketika ditemukan air yang debitnya berkurang atau kondisinya berubah, seperti terlihat lebih keruh.
“Kalau ada masalah seperti di Greenville, air berkurang kemudian keluarnya agak keruh, kita teliti penyebabnya dari mana. Memang sebelumnya sudah diganti mesinnya dan sempat normal, tetapi ketika ada kejadian lagi, kita langsung melakukan pengecekan,” ujarnya.
Haji Aep memastikan berbagai biaya perawatan dan penggantian mesin tidak dibebankan kepada masyarakat melalui kenaikan tarif. Meskipun biaya operasional tahun ini diperkirakan meningkat cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, tarif pelayanan air tetap dipertahankan.
“Tidak ada kenaikan tarif. Itu kewajiban kita. Tarifnya tetap Rp4.000 per meter kubik,” tegasnya.
Ia mengakui, biaya operasional dan perawatan tahun ini diperkirakan meningkat hingga sekitar 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah kondisi kemarau yang berlangsung lebih panjang sehingga kebutuhan perawatan dan penggantian mesin meningkat.
“Kalau dihitung bersama sekretaris, pengeluaran tahun ini sepertinya meningkat sekitar 50 persen dibandingkan tahun yang sudah lewat. Memang tinggi sekali, karena kekurangan dan masalahnya cukup banyak akibat kemarau yang panjang,” ungkapnya.
Meski demikian, Haji Aep menegaskan bahwa prioritas BUMDes tetap memastikan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya air bersih, dapat terpenuhi. Gangguan kecil yang terjadi dinilainya sebagai bagian dari dinamika dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Intinya, untuk menjadi pengurus dan mengawal kebutuhan pokok masyarakat itu harus siap setiap saat. Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada gangguan pelayanan yang berarti. Gangguan sedikit-sedikit itu wajar. Artinya, itu romantika kehidupan, tidak selalu semuanya full sesuai kebutuhan,” pungkasnya.
Reporter : Den




