Kota Tasik, Ketikone.com — Yayasan Daarul Anba Bantargedang Tasikmalaya, lembaga pendidikan Islam yang telah berdiri sejak 1999, menggelar peringatan milad ke-25 dengan rangkaian acara yang berlangsung mulai hari ini (28/12/2025) hingga Jumat (3/1/2025). Acara yang diadakan di Kampung Bantargedang, RW 08, Kelurahan Kersanegara, Kecamatan Cibeureum, mengusung tema “Seperempat Abad Santri Berdaulat, Umat Bermartabat, Daarul Anba Hebat” sebagai cerminan perjalanan dan kontribusi lembaga ini dalam mencerdaskan umat.
Sejarah Berdirinya dan Estafet Pimpinan
Didirikan oleh ulama kharismatik KH. Muhammad Ruhiat bersama para tokoh masyarakat setempat, Yayasan Daarul Anba saat ini diteruskan estafet perjuangan oleh KH. Achef Noor Mubarok, Lc. Sejak awal berdirinya, lembaga ini hadir sebagai pusat pendidikan agama Islam yang memadukan sistem pengajaran salafiyah dan modern dalam kurikulum berbasis Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta menjadi bagian penting dalam perkembangan pendidikan agama di wilayah pesisir selatan Tasikmalaya dan sekitarnya.
Program Pendidikan dan Kegiatan Unggulan
Secara kelembagaan, Daarul Anba telah memiliki legalitas resmi sebagai lembaga pendidikan formal dan non-formal, menyelenggarakan program seperti Madrasah Diniyah, Tahfidzul Qur’an, Kajian Kitab Kuning, dan Pendidikan Karakter. Selain itu, lembaga ini juga mengembangkan pendidikan keterampilan untuk mencetak santri yang mandiri, serta memiliki perhatian khusus terhadap seni dan budaya Islam seperti hadroh, marawis, dan qasidah sebagai media syiar dakwah.
Komitmen Mencetak Generasi Qur’ani yang Berakhlak
“Selama 25 tahun, Daarul Anba telah berusaha mencetak generasi yang berilmu, berakhlakul karimah, dan berjiwa dakwah,” ujar KH. Achef Noor Mubarok.
Lembaga ini tidak hanya fokus pada pembelajaran kitab kuning dan ilmu keislaman klasik, tetapi juga melatih kemampuan santri di bidang sosial, kepemimpinan, sehingga telah melahirkan banyak alumni yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia sebagai pendakwah, guru, pemimpin masyarakat, dan penggerak sektor sosial keagamaan.
Setelah memasuki usia 25 tahun, Daarul Anba telah mengalami perkembangan signifikan dalam jumlah santri, fasilitas, program pembinaan, dan jaringan alumni. Dengan semangat “Membentuk Generasi Qur’ani yang Berakhlak dan Mandiri”, lembaga ini terus berkomitmen menjadi pusat pendidikan Islam yang adaptif terhadap zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasar keislaman, dengan visi melahirkan generasi yang tidak hanya pandai membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga mampu memahaminya.
Makna Milad: Refleksi dan Batu Loncatan ke Masa Depan
Dalam rangka peringatan milad ke-25, seluruh civitas yayasan, alumni, dan masyarakat sekitar menyelenggarakan serangkaian kegiatan edukatif, spiritual, dan kultural. Kegiatan ini bukan hanya bentuk rasa syukur, tetapi juga momentum refleksi, penguatan visi-misi, serta pempererat ukhuwah antar elemen masyarakat. Selain itu, acara ini juga menjadi wadah untuk mengapresiasi semua pihak yang telah berjasa membangun dan membesarkan Daarul Anba.
Ditempat terpisah, Ketua Pelaksanaan, Gian Sapta Ginanjar mengatakan, gelaran tersebut merupakan perpindahan remaja ke dewasa yang menjadi kebanggaan pondok pesantren Daarul Anba juga sebuah harapan panjang untuk lebih baik lagi kedepan.
“Ini merupakan sebuah refleksi juga sebagai batu loncatan untuk merealisasikan apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi kedepan,” ucapnya.
Ponpes Daarul Anba mulai dari institusi paling bawah, Ta’am, TPA/TQA, SMP, MA dan pendidikan Pesantren yang sesuai dengan tema sebagai langkah yang kongkrit kedepan.
“Tentunya ingin bermanfaat, lebih berkah dan ingin mewujudkan Yayasan Da’arul Anba yang terbaik, masyarakat berdaulat dan Indonesia lebih maju,” tutup Gian.
Jurnalis: dan




