Beranda Birokrasi Anggota DPR RI Oleh Soleh Kecam Keras Tayangan Xpose Uncensored, Sebut Melecehkan...

Anggota DPR RI Oleh Soleh Kecam Keras Tayangan Xpose Uncensored, Sebut Melecehkan Kiai dan Pesantren

339
0

Kota Tasik Ketikone — Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), H. Oleh Soleh, menyayangkan terhadap tayangan Xpose Uncensored yang disiarkan di sala satu televisi nasional. Tayangan tersebut menuai gelombang protes setelah menampilkan konten yang dianggap melecehkan Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, salah satu pesantren tertua dan paling dihormati di Indonesia.

Dalam pernyataannya, Oleh Soleh menyebut bahwa tayangan itu telah menyinggung perasaan umat Islam, khususnya kalangan santri dan kiai. Ia menilai bahwa apa yang dilakukan pihaknya bukan sekadar kesalahan editorial, melainkan bentuk kelalaian moral dan pelanggaran etika penyiaran yang serius.

“Pesantren dan para kiai adalah benteng moral bangsa. Ketika lembaga penyiaran menayangkan konten yang seolah memperolok simbol-simbol keagamaan, itu sama saja dengan mencederai jati diri bangsa Indonesia yang religius dan beradab,” tegas Oleh Soleh kepada Ketikone di Hotel City Tasikmalaya.

“KPI tidak boleh hanya menjadi penonton. Lembaga ini dibentuk untuk memastikan setiap tayangan televisi mematuhi Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Kalau tidak ada tindakan tegas, pelanggaran serupa akan terus berulang,” ujarnya.

Oleh Soleh juga menekankan bahwa dunia penyiaran harus memiliki kepekaan sosial dan budaya, terutama dalam konteks bangsa yang majemuk seperti Indonesia. Ia menilai tayangan hiburan tidak boleh dijadikan alasan untuk menabrak nilai-nilai keagamaan yang sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Sementara itu, di berbagai platform media sosial, muncul gelombang reaksi dengan tagar #BoikotTrans7 dan #SavePesantren, menandakan kemarahan publik atas isi tayangan tersebut. Banyak netizen menilai konten itu mengandung unsur penghinaan terhadap lembaga pendidikan Islam yang selama ini menjadi pusat pembentukan karakter generasi bangsa.

Tak hanya dari kalangan politisi, para kiai dan santri dari berbagai pesantren di Indonesia juga turut bersuara, menuntut permintaan maaf secara terbuka dan langkah konkret dari manajemen Trans7. Mereka berharap kasus ini menjadi pelajaran penting agar media televisi lebih berhati-hati dalam memilih materi siaran.

Dalam konteks yang lebih luas, peristiwa ini menunjukkan bagaimana benturan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial media masih menjadi persoalan sensitif di Indonesia. Meski kebebasan pers dijamin oleh undang-undang, batas antara kritik dan penghinaan terhadap nilai-nilai keagamaan tetap harus dijaga.

“Kita tidak anti kritik, tapi ada etika. Jangan sampai kebebasan media berubah menjadi kebebasan untuk menghina,” tutup Oleh Soleh.

Kasus ini kini menjadi sorotan publik nasional. Banyak pihak menunggu bagaimana sikap KPI dan Trans7 selanjutnya — apakah akan ada tindakan tegas, atau sekadar permintaan maaf tanpa konsekuensi nyata.

Satu hal yang pasti, suara keras dari Oleh Soleh mengecam tayangan Xpose Uncensored yang ditayangkan Trans7 beberapa waktu lalu, tayangan tersebut sudah mencederai kehormatan dunia pendidikan pesantren dan bisa menimbulkan kebencian serta kekacauan.

“Sungguh sangat disayangkan. Saya sebagai kader NU juga kader PKB mengecam tayangan tersebut,” Pungkas Oleh Soleh kepada Media setelah kegiatan PKB di Hotel City Kota Tasikmalaya, Selasa 14 Oktober 2025.

Reporter:Dit

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini